FUNGSI WAYANG: Sebagai Tontonan dan Tuntunan
Pertunjukan bayang-bayang di Indonesia telah berlangsung sejak tabun 1500 SM
sebagai sarana untuk memuja dan mendatangkan arwah leluhur. Roh nenek moyang itu,
disebut hyang atau dahyang, dapat diminta untuk memberi bantuan dan perlindungan,
namun roh dapat pula mencelakakan dan mengganggu orang, Oleh karena itu roh harus
senantiasa dipuja-puja. Para hyang diwujudkan dalam gambar atau patung, dan dipimpin
oleh Sang Hyang. Dengan demikian tokoh puncak wayang adalah arwah para leluhur
Bangsa Hindu menggunakan wayang untuk menyebarkan agama lewat cerita
Ramayana, mahakarya Walmiki sekitar 1000 tahun SM-setebal 24.000 bait, dan
Mahabarata, mahakarya Wiyasa 700-600 SM--setebal 100.000 bait.
Tokoh puncak dalam
pewayangan, Sang Hyang digantikan oleh Syiwa atau Betara Guru, namun dengan
beberapa penyesuaian dengan budaya setempat. Misalnya, sebagai manusia biasa, Guru
bukanlah makhluk yang sempurna, ia sering berbuat salah, dan tidak selalu dapat
mengendalikan nafsunya. Oleh karena itu di atas Guru masih ada Sang Hyang Wenang.
Tokoh panakawan adalah asli Indonesia dan tidak terdapat dalam versi India.
Mereka adalah rakyat biasa namun dapat mengalahkan raja bahkan dewa sekali pun,
kalau menyimpang. Sebelum diperintahkan turun dari Mayapada ke Marcapada, Togog
dan Semar adalah dewa, kakak sekandung Betara Guru.
Untuk memilih siapa yang berhak menjadi raja kahyangan telah diadakan
sayembara diantara mereka bertiga, yaitu: "barang siapa yang dapat menelan dan
memuntahkan kembali gunung Jamurdipa maka dialah yang berhak menjadi raja." Betara
Antaga atau Togog (anak sulung) mencoba tetapi gagal menelannya bahkan sampai
mulutnya terobek lebar. Batara Ismaya atau Semar (panenggak) berhasil menelan tetapi
tidak dapat memuntahkan kembali sehingga perutnya besar menggembol gunung. Karena
sarana sayembara telah hilang tertelan, maka Betara Guru (Betara Manikmaya) dengan
sendirinya terpilih menjadi raja Jungring Salaka di langit sap pertama
Setelah gagal menduduki tahta Jungring Salaka, Togog dan Semar diharuskan
turun ke bumi untuk momong, mengasuh dan membina manusia. Mereka mempunyai
misi suci untuk memberikan nasehat agar kebenaran selalu dapat ditegakkan dan ditaati
di dunia. Togog mengabdi pada pihak simpingan kiwa yang senantiasa mengabaikan
nasehatnya, sedangkan Semar mengabdi pada pihak simpingan tengen yang hanya
kadang-kadang saja mengabaikan nasehatnya.
Tokoh tertinggi wayang adalah Sang Hyang Wenang bertempat tinggal
kahyangan Ondar-andir Bawana, di langit sap ketiga. S.H. Wenang meminta Sang Hyang
Rekatatama, yuyu raksasa dan masih kepernah eyang samping, untuk mengisi dunia
dengan makhluk yang sempurna. Makhluk tersebut harus mempunyai 3 (tiga) watak,
yaitu watak dewa, w
Dewi Ratmawati (jin) guna dijodohkan dengan S.H. Rekatatama (hewan). Perkawinan
mereka membuahkan seorang putri, yaitu Dewi Wiranti. Sedangkan gumpalan daging,
yang lahir bersamanya, dipuja menjadi seorang putri, yaitu Dewi Uma
atak jin dan watak hewani. Untuk maksud itu S.H. Wenang mencipta
Sang Hyang Tunggal, anak S.H. Wenang, bertempat tinggal di kahyangan Alang-
alang Kumitir, di langit sap kedua. Sebagai lazimnya para dewa, S.H. Tunggal tidak
mempunyai nafsu, tetapi berkat rangsangan Dewi Wiranti, yang turunan hewan, ia dapat
bercinta. Akibatnya Dewi Wiranti bisa hamil, namun kemudian yang dilahirkan adalah
sebutir telor, bukan seorang bayi. Telor yang gemerlapan memancarkan sinar tersebut,
setelah disidhikara oleh S.H. Wenang, pecah menjadi tiga bagian, kulitnya menjadi
Betara Antaga, putihnya Betara Ismaya, dan kuningnya Betara Manikmaya.
Kedudukan Dewa: Janma Sawantah
Agama Islam membawa pengaruh baru. Bangsa Indonesia mensinkretismekan
Jawa-Hindu-Islam dengan menempatkan Betara Guru sebagai cucu S.H. Wenang dan
anak S.H. Tunggal. Karena nenek moyang S.H. Wenang adalah Nabi Adam, maka para
dewa hanyalah janma sawantah dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Walaupun
umumnya para dewa adalah baik, namun sekal-kali ada yang jelek sifatnya. Para dewa
berfungsi sebagai pelaksana perintah Tuhan, bukan sebagai Tuhan. Sebagai manusia,
Betara Guru, sang raja kadewatan, sering berbuat salah dan beberapa kali tidak dapat
mengendalikan nafsu birahi, amarah, dan dendamnya. Beberapa contoh misalnya
Karena selalu gagal mengejar Dewi Uma, Betara Guru mohon tambahan sepasang
tangan, sehingga ia bertangan empat (Caturbuja), Ketika ia menyombongkan diri sebagai
yang terbagus, maka matanya menjadi tiga (Trinetra). Sewaktu mencari air kehidupan,
tirta amerta, ia keliru meminum racun, walaupun dapat dimuntahkannya namun telaknya
terlanjur terbakar dan membiru (Nilakanta). Pada waktu berperang melawan Kala Mercu
dari Nusa Tembini, ia terhempas dan apus kakinya, semacam polio, sehingga ia harus
selalu naik tunggangan untuk dapat berpindah tempat
Ketika terbang berkelana naik Lembu Andini bersama Dewi Uma, kain isterinya
tersingkap kena angin sehingga betara Guru bernafsu, ingin menggaulinya. Walau
ditolak, namun terlanjur korud kamane, yang kemudian jatuh di lautan dan menjelma
menjadi Betara Kala. Mereka saling menyalahkan dan bertengkar. Ketika itu Dewi Uma
mengatakan: "kelakuan kakanda hanya pantas dilakukan oleh makluk yang bertaring
pun
aka bertaringlah Betara Guru. Isterinya ganti diumpat balik, dan menjadilah raseksi
Betari Durga. Akhirnya sang isteri diharuskan turun ke dunia bersama Betara Kala untuk
merajai jin, setan, dan dedemit di pasetran Gandamayit.
Betara Guru juga sering bertindak menuruti hawa nafsunya, cepat marah, mudah
iri hati, gampang terbujuk, dan kerapkali tergiur oleh wanita cantik. Pandu dan Madrim
dimasukkan ke kawah Candradimuka karena mereka berani meminjam Lembu Andini,
seperti lagaknya mahkluk kadewatan. Begawan Bagaspati dimasukkan ke Candradimuka
karena menginginkan Dewi Uma sebagai isterinya. Dewi Anjani hamil tanpa ayah karena
memakan daun yang telah terkena kama Guru yang korud ketika melihat sang dewi
bertapa tanpa busana, nyantoka. Bahkan anaknya sendiri, Betara Wisnu diusir karena
telah mengawini Dewi Sri Sekar yang diminati olehnya sendiri.
Sedangkan sifat patih kadewatan, Betara Narada pun tidak selalu sempurna
Semula ia mempunyai muka dan tubuh yang sempurna. Namun karena menyombongkan
diri sebagai yang terbaik di muka Betara Guru, maka ia dikutuk dan berubah muka dan
tubuhnya, seperti tokoh peraga wayang Narada yang dikenal sekarang ini. Sewaktu
menertawakan Guru mempunyai anak seekor kera putih, ia dikutuk menggendong seekor
kera juga Maka ia pun mempunyai amak sekor kern.nil9g0
Biasanya Betara Narada berkelakuan arif namun adakalanya ia alpa. Panah
Kuntawijayadanu yang seharusnya diberikan kepada Permadi untuk memotong tali puser
Jabang Tutuka, keliru diberikan kepada Suryaputra, yang memang mirip Permadi. Keris
Kaladete keliru diberikan kepada Karna, sebaliknya keris Kalanadah keliru diberikan
kepada Permadi, karena Karna datang duluan menghadapnya.
Namun biasanya, kekurang-benaran perilaku para dewa ini dapat dicegah oleh
Semar, bahkan bilamana perlu tokoh tertinggi wayang, S.H. Wenang akan turun langsung
menanggulanginya. Dalam falsafah Jawa, Semar menduduki tempat yang terhormat. la
merupakan lambang kebenaran yang hakiki, dan kata-katanya dianggap sebagai suara
rakyat kecil, suara hati nurani manusia yang azasi.
Credited: R.M. Pranoedjoe Poespaningrat "Nonton Wayang dari Berbagai Pakeliran"

No comments:
Post a Comment